Bagaimana memulai menjadi Pemain Esport Profesional?

Bagi sebagian besar orang di Indonesia tidak mengenal apa itu Esport. Namun, bagi sebagian kecil sisanya tersebut, sangat mengagumi dunia esport hingga rata-rata ingin sekali menjadi pemain Esport profesional, tak peduli umurnya saat ini. Tujuan menjadi pemain Esport pro pun bermacam-macam, ada yang ingin bekerja sesuai hobi, ingin mendapatkan pekerjaan tanpa perlu ijazah, ada juga yang ingin melakoni pekerjaan ini karena setelah melihat JessNoLimit dari Mobile Legends, cepat membeli rumah, jam tangan mahal, dan mobil sport.

Banyak sekali orang yang mengagumi JessNoLimit, sebagian besar pula berpikiran, “Jess memang jago, ya karena bakat dari lahir!” ada yang berpikiran juga, “Jess IQnya diatas 200 kali!” Namun bagi saya, apa yang membuat JessNoLimit ataupun pemain esport lainnya bisa seperti itu. Kita lihat satu persatu.

1. Deliberate Practice (Latihan secara Sengaja)

Profesor Psikologi Florida State University, Anders Ericsson membuat penelitian mengenai bagaimana seseorang dapat dikatakan Master atau Dewa dibidangnya. Yang akhirnya disebut Deliberate Practice. Beliau membuat percobaan kepada 40 pemain Biola di Jerman, Ia membagi menjadi 3 bagian:

Group Pertama: Bintang (Ia melihat cukup banyak potensi grup ini akan menjadi sukses)

Group kedua: Baik memainkan biolanya

Group ketiga: OK memainkan biola.

 

Prosedur penelitian dari Prof Anders Ericsson, meliputi:

1. Penelitian pertama, Mulai usia berapa mereka memulai.

2. Kedua, Berapa jam sekali bermain biola

3. Total jam yang mereka hasilkan sampai saat ini

 

Saya akan membuatnya menjadi tabel:

 

GRUPMulai bermain BiolaBerapa Jam/minggu Latihan BiolaKeteranganTotal jam yang dicapai
BINTANGUmur 5 tahun2-3 jamDiumur 20 tahun berlatih 30 jam10,000
BAIKUmur 5 tahun2-3 jamDiumur 20 tahun berlatih 2-3 jam2,000
OKUmur 5 tahun2-3 jamDiumur 20 tahun berlatih 2-3 jam<2,000

Terlihat kan apa yang menjadi perbedaan?

Ya, JessNo Limit bermain dan berlatih Mobile Legends dengan total Match yang sudah Ia lalui yakni 8300 pertandingan. Sama halnya dengan Lemon sang Raja Mage, yakni 10,000 match.

FAKER The King of League of Legends

Faker - Lee, Sang Hyeok
Foto www.esportsearnings.com

Faker menjuarai League of Legends World Championship 3X (2013,2015, 2016) dan Runner Up 1x di 2017. Memegang Earning terbanyak di dunia untuk Game League of Legends, dengan total $1,175,068.35 (sekitar Rp 17 Trilyun). Merupakan Pemain Esport dengan ranking no. 52 di dunia untuk urusan pendapatan dari kompetisi esport keseluruhan. Sebelum mengenal LoL, Faker telah bermain cukup banyak game MOBA awal-awal, seperti CHAOS. Jam latihan yang dihasilkan pun sangat banyak, faktor terpenting Faker dapat bermain baik di LoL sampai saat ini.

Faker memiliki banyak julukan, dan sering disandingkan sebagai Lionel Messi-nya League of Legends.

 

2. Mulai Mengikuti Kompetisi

Image result for kompetisi pes
kompetisi rumahan

Mengikuti kompetisi merupakan modal yang cukup kuat untuk menjadi Pro Player. Di sana kita dapat mengasah mental. Dimana sebelumnya mental kita bisa dianggap mental anak rumahan, bertanding lewat Mobile, PC, atau konsol baik secara Online, LAN, offline, yang hanya berani bertanding didalam kandang, sekarang harus bertanding disaksikan pemain lain ataupun penonton. Dari mengikuti kompetisipun, kita dapat mengambil banyak masukan secara strategi bermain, gameplay tiap pemain/tim, dll.

Kompetisi yang diikuti tidak mesti kompetisi besar, kompetisi rumahanpun cukup untuk menguji mental kita.

 

3. Selalu menjaga Kesehatan

Image result for esport healthy
foto iq.intel.com

Esport sama halnya dengan olah raga fisik lainnya, bila keadaan tubuh tidak sehat, maka akan memberikan efek buruk bagi apapun yang kita kerjakan. Atau nama lainnya, Performa bermain menjadi buruk.

Seperti halnya pemain pro Sepak Bola ataupun NBA, bila mereka terkena cedera, dipastikan pemain tersebut akan dibangku cadangkan, dan kemudian akan digantikan dengan pemain lainnya. Efek berikutnya, dipertandingan berikut yang notabene pemain tersebut sudah “sehat”, kemungkinan besar juga tidak akan dimainkan kembali.

Waktu pertandingan Esport berbeda dengan waktu pertandingan dibanyak olah raga fisik. Contohnya genre MOBA. Dimana match di MOBA tidak ditentukan dari waktu, namun dari Base yang hancur. Maka dari itu game pertandingan yang panjang, sudah menjadi makanan bagi pemain esport profesional.

Maka bila ingin serius di Esport pun, tidak ada pengecualian untuk menjaga pola makan, tidur cukup, dan olah raga teratur. HEALTHY MIND. HEALTHY BODY

 

4. Mencari Seseorang yang dapat dijadikan Mentor / Coach

Image result for mentor
foto indianceo.in

Apa gunanya mencari Mentor atau Coach? Banyak sekali kegunaannya!

Yang paling terpenting adalah orang tersebut merupakan orang yang dapat menilaimu dari sudut pandang berbeda. Meskipun nantinya saran dan ide yang diberikan kadang tidak kita ikuti. Mentorpun yang paling pertama tahu kapan kita sudah harus naik kelevel berikutnya. Biasanya mentor yang baik akan memberikan tantangan, yang pastinya sudah diperhitungkan bahwa kita akan sukses melewatinya.

Bila kita melihat orang-orang sukses dibidang Teknologi dan Keuangan, Beberapa orang sukses berikut memiliki mentornya masing-masing:

  1. Mark Zuckerberg dimentori Steve Jobs,
  2. Larry Page dimentori Michael Bloomberg,
  3. Marc Benioff dimentori Larry Ellison,
  4. Warren Buffett dimentori Benjamin Graham.

Mentor akan memperjelas dan mengatur bagaimana tujuan Anda supaya tidak menjadi bias.

 

Nah itulah 4 Alasan, Persiapan, Syarat untuk memulai menjadi pemain Esport profesional dari sudut pandang DuniaEsport.com

 

Leave a Reply